Berita  

Jadi Timses Capres, Ketum PP Pemuda Muhammadiyah Diminta Mundur

JAKARTA,- Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah (PPPM) Dzukfikar Ahmad Tawalla, diminta agar mengundurkan diri atau nonaktif dari jabatannya setelah bergabung atau masuk dalam tim sukses (timses) calon Presiden dan calon Wakil Presiden (capres-cawapres) pada pemilu 2024.

Diketahui Dzulfikar saat ini aktif menjadi tim sukses capres-cawapres nomor urut 2 Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming, di mana ia terlihat dan secara terang-terangan aktif mendampingi sejumlah aktivitas kampanye pasangan tersebut. Di sisi lain, Dzulfikar juga tergabung sebagai Dewan pengarah nasional Bergerak 1912.

Mantan Pengurus PP Pemuda Muhammadiyah, Abdul Rahman menjelaskan bahwa langkah mundur atau nonaktif patut dilakukan selain untuk menjaga agar Muhammadiyah secara kelembagaan terlepas dari infiltrasi kepentingan politik, juga agar Muhammadiyah tetap bisa dipnadang sebagai jembatan dan entitas penjaga moral bangsa. “Tidak bisa dipungkiri bahwa Dzulfikar ini ketua umum Pemuda Muhammadiyah, simbol besar organisasi, seharusnya ia bisa menempatkan diri atau setidaknya jika memang tidak bisa menahan diri maka mundur atau nonaktif saja sebagai Ketua Umum,” pungkasnya.

Menurut dia, keterlibatan Dzulfikar dengan identitas Ketua Umum PPPM yang melekat pada dirinya dan ia menjadi timses Capres-Cawapres secara moral tidak sejalan dengan sikap dan tradisi yang ada di Muhammadiyah. “Apalagi kita melihat dalam beberapa kesempatan, Dzulfikar juga sudah mulai menggunakan cara-cara yang tidak elok dalam berkampanye, yang mana hal itu tentu jauh dari cerminan seorang kader Muhammadiyah yang dikenal santun dan rasional, termasuk ketika melontarkan kritik,” kata Rahman, yang juga pernah sebagai Ketua Bidang Kader dan Sekretaris Jenderal DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.

Rahman menambahkan, kalau dirinya tak memungkiri bahwa Dzulfikar memiliki kedekatan dengan penguasa.”Ini sah dan normal saja kalau itu berkaitan dengan kepentingan organisasi, namun menjadi soal jika itu ditarik lebih jauh kepada kepentingan personal termasuk ke dalam hal menjadi timses. Dari sikap-sikap yang ditunjukkannnya, kami mau mengingatkan, bahwa kedekatan dengan penguasa kadangkala memang membuat sesorang sering khilaf,” tutupnya.