Berita  

Jenis dan Urutan Penerima Infak yang Harus Diperhatikan

Infak merupakan salah satu amalan yang berkaitan dengan pemberian uang ataupun harta benda lainnya di jalan Allah swt. Perintah untuk berinfaq telah tercantum dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 195, Allah swt berfirman:

وَأَنفِقُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا تُلْقُوا۟ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى ٱلتَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوٓا۟ ۛ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

Artinya: “Infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al-Baqarah: 195).

Infak artinya mengeluarkan sebagian harta yang dimiliki atau pendapatan (penghasilan) yang diperoleh untuk tujuan yang sejalan dengan syariat Islam.

Dengan kata lain, infak adalah mendermakan atau memberikan rezeki (karunia) atau menafkahkan sesuatu kepada orang lain berdasarkan rasa ikhlas karena Allah SWT. Infak juga meliputi belanja wajib untuk istri dan anak, kerabat, serta sedekah sunnah.

Ada dua jenis infak yang harus diketahui diantaranya infak kepada keluarga dan fisabilillah.

1.Infak kepada Keluarga
Infak kepada keluarga merupakan suatu kewajiban dan harus didahulukan sebelum orang lain sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 233: “dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf”.
Dan hal ini juga ditegaskan dalam hadis nabi:
Dari Abu Hurairah RA, ia bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah sedekah yang paling utama?’ Rasul menjawab, ‘Sedekah orang sedikit harta. Utamakanlah orang yang menjadi tanggung jawabmu,’” (HR Ahmad dan Abu Dawud).

2.Infak fisabilillah
Infaq fi sabilillah yang sangat dianjurkan untuk ditunaikan untuk kepentingan penegakan agama Islam dan kaum muslimin. Infaq fisabilillah yang pemanfaatannya digunakan untuk kemaslahatan umat.

Dari dua jenis infak ini yang harus diutamakan adalah infak kepada keluarga terlebih dahulu kemudian kepada orang lain apabila ada kecukupan sebagaimana hadis nabi :

“Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya paling besar adalah yang engkau berikan untuk keluargamu.” (HR. Muslim)

Disampaikan oleh Dr KH Syamsul Bahri Abd Hamid Lc MA (Sekertaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulsel dan Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Cokroaminoto Makassar) saat mengisi ceramah tarwih di Masjid Ikhtiar Perdos Unhas Makassar pada Rabu 20 Maret 2024.

Irfan Suba Raya