Berita  

Footnote Historis : Fenomena Ustaz Das’at Latif di Pentas Muballiqh

by Ahmad M. Sewang

Saya menaruh rasa hormat dan sangat menghargai prestasi Ustaz Das”at Latif 1karena bisa membangun mubalig professional pada dirinya. Buktinya, ia bisa membangun dua masjid: satu untuk Bapaknya di kampung dan satu untuk Ibunya di Makassar Mubalig professional tidaklah muda mengigat dunia persaingan masa kini.

Mubalig professional adalah mubalig yang bisa surviva dengan professinya. Saya pernah menulis mubalig professinal, sebagali mantan Ketum DPP IMMIM. Dalam tulisan itu akhirnya saya berkesimpulan tidak mungkin menciptakan mubalig profesional, malah justru yang muncul sebaliknya, yaitu mubalig amatiran; seperti radio swasta yang tidak dibayar menjadi radio amatir. Sekali lagi bahwa mubalig professional dalam arti ia bisa hidup dengan professinya. Karena itu, umumnya yang diterima di IMMIM sebagai mubalig adalah yang sudah memang punya professi tertentu, misalnya PNS.

Mubalig di IMMIM rata-rata PNS atau dosen sebagai professinya dan mubalig sebagai tambahan. Seorang mubalig jika mengandalkan honor sebagai mubalig paling tidak hanya Rp 500 ribu per satu kali tampil sebagai khatib. Pendapatan sebanyak ini pasti tidaklah cukup menjamin hidupnya dan keluarganya, karena tidak mungkin menjadi mubalig professional, maka kenapa kita tidak bicara yang mungkin saja? yaitu mubalig “professional dalam penyajian, tetapi amatiran dalam bayara,” kata Husni Djamaluddin dalam presentasenya di IMMIM beberapa dekade lalu.

Dalam dunia olah raga memang kita mengenal petinju professional, seperti peinju lagendaris; Muhammad Ali, atau si leher beton, Make Tyson. Keduanya berjaya karena professi sebagai adu jotos.

Suatu ketika saya memiliki nara sumber di Jakarta yang perlu saya datangkan sesegera mungkin di Makassar, sementara saya salah perhitungan; mulanya dikira hanya seorang padahal dua orang, sedang dana yang disiakan mendatangkan untuk seorang. Artinya, saya devesit satu orang. Kesulitan ini kemudian saya beritahu yunior saya, Ustaz Das’at Latif, beliau dengan tulus menangulanginya. Jadi beliau bukan hanya omong doang tetapi mengamalkan ilmunya yang tercermin dalam prilakunya.

Das’at Latif saya kenal beliau sejak lama. Saya bersyukur karena doa saya merasa terkabul Allah swt. Sesuai ilmu budaya yang saya tekuni bahwa orang yang datang kemudian akan lebih sempurna daripda pendahulunya yang sudah ada. Doa saya selalu “Ya Allah semoga Yunior saya lebih baik daripada saya sendiri.” Artinya, jika mereka lebih baik barulah saya berhasil, tetapi jika mereka tidak bisa melebihi seniornya, berarti seniornya gagal, “. Memperhatikan materi Dakwahnya di Metro tv sepanjang Ramadan tahun ini, nampaknya sejalan dengan perjalanan waktu, semakin kaya khazanah imajinasinya.

Sekarang yang saya ketahui sudah bisa menembus kominatas partai politik dan beberapa komunitas masyarakat lainnya. Menurut pridiksi saya bahwa sedang tumbuh seorang pewaris Nabi di masa depan yang berbakat menjadi mubalig prefessional yang akan semakin digemari. Dulunya saya berpendapat tidak mungkin merciptakan mubalig professional tetapi melihat fenomena Ustaz Das’at Latif di pentas mubalig, membuat pendapat saya berubah dengan sendirinya.

Akhirnya, beberapa hari terakhir saya selalu menelepon beliau. Saya ingin mengundang ke Pelatihan mubalig di DMI Wilayah Sulawesi Selatan. Nampaknya nomor telponnya sudah diganti sehingga tidak bisa konek. Saya mengharap bahwa siapa pun mengenal nomor telpon beliau yang baru tolong hubungi saya.

Wasalam,
Kompleks GPM, 01 April 2024